Amerika Serikat tengah mengalami periode yang sangat menarik Kartu Ganja belakangan ini. Negara ini memiliki presiden kulit hitam pertama, Barack Obama, yang berjuang menghadapi krisis keuangan global, sekaligus terus memicu perdebatan mengenai isu kesehatan yang berlangsung lebih dari lima belas tahun. Fokus kita di sini adalah pada masalah medis—terutama Pengobatan Ganja dan penerapannya dalam sistem kesehatan nasional.
California menjadi negara bagian pertama yang melegalkan penggunaan ganja untuk keperluan medis dengan mengesahkan Proposisi 215, atau Undang-Undang Penggunaan Welas Asih tahun 1996. Sejak itu, California mengalami berbagai dinamika, termasuk penggerebekan apotek ganja medis oleh DEA. Saat ini, pasien di negara bagian ini diwajibkan memiliki Kartu Ganja agar bisa menjalani terapi ganja. California bukan satu-satunya; 13 negara bagian lainnya juga telah melegalkan terapi ganja secara resmi. Namun, legalisasi ini belum merata di tingkat nasional, mengingat pemerintah federal di bawah Presiden Obama dan jajaranannya masih menolak legalisasi ganja.
Hingga kini, ada empat belas negara bagian yang mengizinkan penggunaan ganja untuk pengobatan dalam jumlah tertentu. Meskipun hukum federal masih melarang penggunaan ganja, warga di Alaska, California, Colorado, Hawaii, Maine, Michigan, Montana, Nevada, New Mexico, Oregon, Rhode Island, Vermont, dan Washington terlindungi dari tuntutan hukum federal selama mereka mematuhi aturan negara bagian. Setiap orang yang memiliki ganja dalam batas legal wajib memiliki kartu ganja medis—ini bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Pelanggaran tanpa kartu medis dapat berujung pada hukuman, termasuk penjara.
Meski pemerintah federal mulai melonggarkan sikapnya terhadap ganja dan otoritas federal menunjukkan pendekatan yang lebih lunak, kewajiban memiliki kartu ganja medis tetap berlaku. Kartu ini berfungsi sebagai bukti bahwa seseorang memenuhi syarat untuk menjalani terapi ganja setelah evaluasi oleh dokter berlisensi. Penggunaan kartu palsu dapat berakibat sanksi berat, termasuk denda, tuntutan hukum, dan penahanan. Tidak ada yang ingin menghadapi konsekuensi tersebut.
Semakin banyak dokter yang mengakui efektivitas pengobatan ganja untuk berbagai penyakit. Namun, penggunaan medis ganja masih terbatas di sejumlah kecil wilayah di dunia. Diharapkan otoritas kesehatan segera menyadari potensi besar tanaman ini dalam bidang medis. Kekhawatiran mengenai penyalahgunaan dan peningkatan pasar gelap ganja bisa diminimalkan dengan penerapan sistem kartu ganja medis yang ketat dan transparan. Kita tunggu langkah selanjutnya dari pemerintah AS. Namun yang pasti, hasil positif pengobatan ganja semakin nyata dan tidak bisa disembunyikan lama lagi.